Test Drive Mini Cooper S Cabrio

  • Jumat, 30 Desember 2016 11:00 WIB

Test Drive Mini Cooper S Cabrio | Rian/otomotifnet

Jakarta - Sebut itu Cabrio di Indonesia, Cabriolet atau Convertible di Inggris. Apapun nama yang digunakan, semuanya menandakan atap Mini yang bisa dibuka. Untuk apa? Bila menurut kalian udara di Jakarta tidak semenarik itu untuk mengemudikan sebuah open top, sebaiknya berpikir lagi untuk hatchback yang satu ini.

Selain bentuk awalnya sudah atraktif, membuka atap soft top-nya hanya membuatnya dua kali lebih dilirik. Tidak bercanda, hampir enggak ada yang tidak menujukkan pandangannya ke unit tes berwarna Caribbean Aqua ini. Entah lirikan itu untuk rasa iri atau benci, yang jelas Mini ini menarik sangat banyak atensi.

Kini dalam generasi ketiganya dengan kode bodi F57, sejumlah refinement dan sentuhan khas BMW diberikan. Apakah kebanggan ketika mengendarai dengan atap terbukanya tergandakan lagi dengan khas fun to drive hatchback Inggris ini? Atau adakah yang dikorbankan demi gaya yang dikuadratkan tersebut? • Tim OTOMOTIF

Atap Convetible

Pilihan bahan soft top untuk atap convertible punya efek positif dan negatif. The good parts, pengoperasian mekanisme pembukaan atap benar-benar tenang, tidak mengganggu seisi kabin ketika dilakukan.

Andai saja ada pilihan agar tombol pembukanya tidak perlu ditahan agar pengemudi tidak terlihat canggung melakukannya di jalan raya.

Bahan fabric bermotif bendera Inggris untuk Cooper S ini juga membuat hampir tidak ada penambahan beban keseluruhan, sama-sama di bawah 1,3 ton meski bagian bawah meski mendapat reinforcement tambahan agar tetap serigid Mini F56 standar.

Bisa dibuka setengah, tanpa mengangkat pilar ala-ala panoramic sunroof juga jadi salah satu kelebihannya, yang juga bisa dilakukan dalam kecepatan berapapun.

Sayang akan muncul notifikasi untuk mengurangi kecepatan dan mekanisme berhenti, bila mencoba membuka atap full atau menutupnya di atas 30 km/jam.

Soal keamanan, terdapat dua palang perlindungan yang disebut ‘pyrotechnical rollover bars’, terbuat dari aluminium dan akan bekerja dalam 150 detik ketika mendeteksi mobil terguling untuk melindungi pengendara. Bagian terburuknya? Cek ulasan tentang Kenyamanan!

Fitur

Mini Logo Projection yang memancarkan logo merek Inggris ini ke tanah ketika membuka kunci tidak pernah gagal untuk mengimpresikan orang-orang. Sementara setiap lampu yang digunakan seperti head lights, fog lights dan taillights sudah LED.

Masih menyangkut lampu, ambient lighting di dalam yang bisa diganti warnanya via tuas di overhead console juga menguatkan karakter Mini.

Sementara layar head unit 8,8 inci dengan controller iDrive BMW masih tetap menjadi salah satu sistem hiburan kabin paling fluid dan intuitif, apalagi dilengkapi 12 speaker Harman Kardon untuk varian Cooper S ini.

Launch control pun disediakan bagi yang senang pamer jadi redlight racer, sedangkan highway cruiser juga diberikan cruise control dan speed limiter. Auto headlights dan rain sensing wiper tentunya standar.

Yang kurang justru bersifat lebih basic, seperti 4 sensor parkir yang tidak dilengkapi kamera mundur, padahal ukuran jendela belakang sangat kecil. Begitu pula kedua jok depan yang masih dioperasikan manual. Really, Mini? Hampir Rp 800 juta dan masih manual?

Kenyamanan & Handling

Is it fun? Is it harsh? Tentu saja, lagipula ini Mini yang sedang kita bicarakan. Wheelbase 2.495 mm yang sama persis dengan Mini 3-door membuatnya tergolong compact dan enak dibuat bermanuver, apalagi khas setirnya yang meski electromechanical power steering, tetap memiliki feedback yang natural, pun cukup ringan di kecepatan rendah dan berbobot cukup saat kencang berkat Servotronic.

Sama sekali tidak merasakan gejala flexing ketika berbelok agresif, menandakan rigiditasnya tidak terganggu meski Cabrio ini mesti kehilangan pilar B. Sayangnya, setting Dynamic Damper Control yang membuat suspensi berlebih keras pada mode Sport bukannya membuat semakin fun, justru merusak drive quality-nya.

Pada mode Mid juga masih jauh dari empuk, namun siapapun yang pernah mengendarai Mini pasti dapat mengekspektasi karakter stiff dan keras kombinasi suspensi dan ban run flat-nya. Namun bagian yang sangat mempengaruhi kenyamanan ada di pemakaian atap soft top.

Karena tipisnya kaca belakang dan keseluruhan atap, suara dari luar yang tembus ke dalam tergolong sangat parah, terutama dari bagian belakang kiri dan kanan.

Jelas ini bukan mobil yang dibutuhkan untuk menghilangkan stres ketika pulang dari kantor, karena suara bus dan motor yang menerobos ke dalam justru akan membuat kepala semakin penat. Sekalian dibuka terus sajakah?

Performa & Konsumsi

Cara merangkum termudahnya, ini adalah Mini dengan mesin BMW 3 Series yang sedikit didongkrak. Efeknya, katakan saja kebanyakan hanya akan melihat Anda dari belakang karena cepatnya hatchback ini.

Memang tidak seringan small hatchback, namun mesin B48 bertenaga 189 dk tersebut mudah saja melesatkan Cooper S Cabrio ini ke 100 km/jam dalam 6,9 detik dengan launch control.

Meski tetap sedikit terasa turbo lag, namun mode Sport yang membuat putaran mesin dijaga di lebih tinggi mengurangi efek tersebut. Kalau dirasa masih kurang juga, tinggal geser tuas transmisi ke S supaya lebih agresif lagi.

Overtake pun semudah menambah sedikit injakan pedal gas saja meski di dalam mode Mid, hanya saja downshift di transmsi 6-percepatan ini tidak terjadi sesering 8-percepatan pada Clubman.

Yang jelas, exhaust burble sangat menghibur telinga ketika berdeselerasi, apalagi saat atap terbuka. Untungnya seperti setiap mesin TwinTurbo BMW modern lainnya, mesin ini tidak menginginkan pemiliknya sering-sering ke POM bensin.

Konsumsi di kecepatan konstan 100 km/jamnya lebih baik dibanding mayoritas mobil berkapasitas 1.500 cc.

Belum lagi ketika memanfaatkan mode Green dengan coasting yang menjaga putaran mesin di 800 rpm ketika melepas pedal gas di atas kecepatan 50 km/jam.

Data Spesifikasi

Mesin: B48 4-silinder segaris dengan Double VANOS, Valvetronic dan Twin-Scroll Turbocharger
Kapasitas Mesin: 1.998 cc
Rasio Kompresi: 11 : 1
Output Maksimum: 189 dk @ 4.700 – 6.000 rpm
Torsi Maksimum: 300 Nm @ 1.250 – 4.750 rpm
Transmisi: Otomatis 6-percepatan dengan Steptronic
Dimensi (p x l x t): 3.850 mm x 1.727 mm x 1.415 mm
Wheelbase: 2.495 mm
Ground Clearance: 115 mm
Radius Putar: 5,4 m
Sistem kemudi: Electromechanical Power Steering dengan Servotronic
Suspensi Depan: MacPherson Struts
Suspensi Belakang: Multi-link
Damper: Dynamic Damper Control (Green-Mid / Sport)
Rem Depan / Belakang: Cakram Berventilasi / Cakram Berventilasi dengan ABS, EBD, DSC dan CBC
Ukuran Ban: Pirelli Cinturato 205/45 R17
Kapasitas Tangki: 44 liter
Berat Kosong / Gross: 1.275 kg / 1.745 kg
Harga: Rp 789.000.000off the road

Data Test

0 - 60 km/jam: 2,5 detik
0 – 100 km/jam: 6,9 detik
40 – 80 km/jam: 2,7 detik
0 – 201 m: 9,9 detik
0 – 402 m: 15,1 detik

Data Konsumsi

Dalam Kota: 8,9 km/liter
Luar Kota: 13 km/liter
Konstan 60 km/jam: 26,5 km/liter @ 1.250 rpm 6th
Konstan 100 km/jam: 19,6 km/liter @ 2.000 rpm 6th

Reporter : otomotifnet
Editor : rio

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×