All New Chevrolet Trailblazer LTZ First Drive Review, Terasa Seperti Di Tengah-Tengah

  • Minggu, 12 Maret 2017 09:15 WIB

Kualitas interior, cara berkendara hingga bantingan lebih terasa di antara SUV ladder frame yang lebih populer | rian

Jakarta - Usai memperkenalkan All-New Trailblazer kepada sejumlah media di Palm Hills Golf, Sentul (22/2), kami mencobanya untuk waktu yang singkat, di atas aspal dan di atas tanah.

Menurut kami, gelar yang cocok untuk Trailblazer facelift ini adalah ‘in between’ atau ‘di antara’.

Mengapa? Simpel, hampir setiap parameter darinya ada di tengah-tengah SUV ladder frame lainnya di Indonesia. Tentu, maksud kami adalah All New Toyota Fortuner dan All New Mitsubishi Pajero Sport.

Sebelum memulai, kami menggunakan remote start engine dari luar.

First Drive All New Chevrolet Trailblazer LTZ In Between
Tombol fisikal 'rugged feel' sangat mudah digunakan saat mengemudi, ala Amerika banget nih. Sayang, detail di tombol tersebut seperti font yang digunakannya tidak serapi lainnya

Prosesnya mudah. Seperti Civic, cukup kunci mobil terlebih dahulu, kemudian tahan tombol Engine Start di remote selama sekitar 3 detik, maka mesin 2.5 L Duramax dengan VGT akan menyala tanpa siapa pun di dalam kabin.

Takut ada maling? Tenang, meski mesin sudah menyala, masih butuh kunci untuk membuka pintunya kok. Sayangnya karena belum ada passive keyless entry, masih butuh tekan tombol di remote lagi untuk membuka kunci pintunya.

Masuk ke dalam, SUV dengan ground clearance 221 mm ini sudah menyediakan side step. Untunglah, karena bodinya terasa sangat tinggi, sehingga tak terlalu sulit untuk menapak dengan side step yang sudah tersedia bahkan dari varian LT tersebut.

First Drive All New Chevrolet Trailblazer LTZ In Between
Kaca depan akan turun sedikit sekitar 5 cm ketika pintu dibuka dan kembali naik saat pintu ditutup seperti mobil frameless, untuk memastikan selalu tertutup rapat

Untuk varian LTZ yang kami coba, jok pengemudi sudah elektrik, meski memang pengaturannya hanya 6-arah sehingga pengatur ketinggian hanya bisa diubah bagian belakangnya saja.

Untuk tester kami setinggi 175 cm, posisi terendahnya pun terasa sangat tinggi sehingga memberikan rasa commanding view seperti SUV ladder-frame lainnya.

Yang kami persoalkan, pengaturan setir telescopic belum tersedia. Itu pun, posisi setir terlalu dekat dengan dasbor, sehingga lebih sulit memberi posisi mengemudi yang ergonomis.

Reporter : Fransiscus Rosano
Editor : Otomotif R4

Tags :

#Chevrolet

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×