Rabu,15 Maret 2017 19:00 WIB

Penulis: Tim Otomotifnet

Kualitas Sealant Bisa Jadi Tersangka Kaca Calya-Sigra Pecah

Foto: Facebook: Herkulanus De Votis

Kualitas sealant yang kurang membuat tingkat elastisitas berkurang, sehingga cepat keras dan tak mampu menahan kaca dengan baik, membuat celahnya terlalu rapat ketika memuai

Jakarta - Media sosial kembali dihebohkan oleh kasus yang melanda Astra Toyota Calya dan Daihatsu Sigra. Kaca belakang diduga pecah sendiri, hingga kini penyebab terjadinya hal tersebut masih jadi misteri.

Setelah teori sebelumnya mengenai panas yang menjadi sebab kaca duo LCGC 7-seater Toyota-Daihatsu tersebut pupus, kini muncul teori lain yang mengatakan kualitas sealant yang digunakan bisa jadi tersangkanya.

Arief Hidayat, dari perusahaan Wealthy, penyedia produk perawatan dan aftermarket otomotif sumbang suara soal ini.

“Salah satu penyebab kaca pecah, kemungkinan bisa disebabkan oleh sealant yang kualitasnya kurang baik,” bukanya.

Menurutnya, sealant yang kurang bermutu tingkat elastisitasnya jelek. Akibatnya pun jadi cepat keras atau tak mampu menahan kaca dengan baik dan saat kaca memuai (dalam kondisi panas), celah antara dudukan kaca dan kaca terlalu rapat.

Sealant Jendela
Ilustrasi aplikasi sealant di kaca depan

Lanjut Arief, sealant untuk kaca mobil berbahan dasar polyurethane (PU). Bahan ini umum dipakai sebagai sealant (perekat) kaca bagian depan dan belakang dan jauh lebih kuat dari silikon.

“Terutama tingkat elastisitasnya yang mampu memegang kaca dalam keadaan mobil bergerak,” katanya lagi.

Namun begitu, di pasaran ada kemungkinan produk sealant yang kualitasnya kurang bagus, lantaran campuran bahan aditif terlalu banyak sehingga kandungan polyurethane-nya berkurang.

Efeknya, jadi cepat mengeras lantaran terkena sinar ultraviolet (matahari) terus-menerus.

“Atau juga, tingkat elastisitas berkurang ketika saat dipakai, bahan PU yang tersebut sudah mulai kadaluarsa,” kata Arief lagi.

Sekadar informasi, saat ini menurutnya sealant bahan polyurethane belum diproduksi di Indonesia, alias masih diimpor.

“Biasanya masa kadaluarsa sekitar 9 bulan sejak diproduksi, makin lama daya elastisitasnya juga makin menurun,” tutupnya.

EDITOR

rio

Top